Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Maret 2021

Novel Ramah Perbedaan tanpa Mengaburkan Keyakinan

Perjalanan kepenulisan seorang Azzura Dayana bisa dibilang sudah cukup panjang. Ia lahir dari seleksi editor satu penerbitan ke penerbitan lainnya. Sesekali juga teruji lewat kompetisi menulis berskala nasional. Bahkan novel pertamanya, Alabaster, adalah pemenang III Sayembara Novel Islami Gema Insani tahun 2004.

Awal tahun 2021 ini, Azzura kembali menerbitkan novelnya yang juga hasil kompetisi. Novel I Love View (ILV) adalah peraih Special Award pada Kompetisi Menulis Indiva 2020.

Bagi pembaca karya Azzura tentu sudah bisa menebak kekhasan setiap novelnya. Perjalanan. Baik perjalananan fisik dan bisa pula perjalanan batin. Seperti penuturan penulisnya saat bedah novel ILV yang dilaksanakan oleh FLP Wilayah Sumsel pada Februari lalu bahwa bagi seorang penulis sebisa mungkin mengabadikan setiap perjalanannya dalam karya. Ini adalah sumber ide yang potensial dituliskan.


Begitulah ILV lahir dari
traveling penulisnya ke dua negara tetangga. Singapura dan Malaysia. Meski ada beberapa tempat dalam novel yang pada faktanya belum dikunjungi secara langsung, setidaknya secara umum, Azzura bisa menangkap 'aura' latar tempat di novelnya. Bagi saya, ini salah satu keunggulan ILV. Mampu mendeskripsikan tak hanya deretan nama-nama tempat wisata tetapi juga menghadirkan rasa pada tiap tempat yang disinggahi.  Bukan sekadar buku panduan wisata.

Hal yang juga istimewa adalah kemampuan penulis menjalinan tiap adegan menjadi alur penuh kejutan. Nyaris tidak ada kejadian yang terlewat begitu saja. Tone bercerita terasa cepat dan padat. Anti bosan.

Namun demikian, setelah menyelesaikan ILV, saya langsung teringat Altitude 3159: Miquelii. Novel dari penulis yang sama yang terbit selang satu tahun sebelumnya (September 2019) Kedua novel ini mengisahkan seorang perempuan dewasa yang melakukan perjalanan ke suatu tempat karena sedang mengalami permasalahan.

Karena persamaan premis ini, saya menilai secara umum ILV dan Altitude 3159 relatif sama. Hal ini sangat mungkin terjadi karena proses penulisannya hampir berdekatan waktu. Terlebih ILV memang harus diselesaikan mengikuti jadwal deadline lomba. Jika saja dijeda sedikit lebih lama, mungkin ada ide segar untuk I Love View.

Di luar konten novel, tampilan novel juga menjadi perhatian pembaca secara keseluruhan. Seperti yang pernah saya tulis di ulasan singkat pada akun instagram bahwa cover novel setebal 231 hslaman ini juara. Kesan feminis dan elegan begitu kuat  menyapa pembaca. Really, I Love It!

Sayangnya desain isi tidak cukup nyaman. Pilihan ukuran font huruf nampaknya terlalu besar. Karena ini novel dewasa, bukan buku cerita anak, mungkin bisa lebih dipadatkan tampilannya.  

“Lihatlah. Segalanya dengan cepat berubah. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, persiapkan hatimu. Aku tahu Seon baik. Dan dia sangat perhatian padamu. Dia juga toleran. Tapi, dia belum melihatmu yang sekarang. Kamu berbeda.” (hlm. 228)

Dengan plus-minus-nya ILV, saya sebenarnya sangat terkesan dengan ending yang ditawarkan penulis. Perbedaan keyakinan antar tokoh bisa dikemas apik tanpa memberi kesan menyinggung SARA. Di tengah gencarnya isu toleransi, literasi Indonesia butuh lebih banyak karya yang ramah perbedaan tanpa mengaburkan makna istiqomah.  Selamat!***


Identitas Buku

Judul buku: I Love View

Penulis: Azzura Dayana

Penerbit: Indiva Media Kreasi

Halaman: 231 hlm.

Harga: Rp.65.000,-


Share:

Jumat, 31 Januari 2020

Resensi Novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir



Rasa-rasanya tidak ada siswa di seluruh penjuru Indonesia yang tidak mengenal nama Pangeran Diponegoro. Sayangnya, selama ini dalam pelajaran sejarah, kita dikenalkan pada sosok tersebut sebatas sebagai salah satu pahlawan nasional. Ia bersama pasukannya berperang melawan penjajahan Belanda. Selesai.

Tapi akan menjadi berbeda ketika Sultan Abdul Hamid Diponegoro dinarasikan dalam sebuah novel. Ada sentuhan emosi. Ada persepsi berbagai pihak. Ada sesuatu yang luput dari data yang ikut terungkap. Demikian yang ditawarkan novel karya Salim A Fillah, seorang  da'i yang juga penulis.

"Hari ini, tugas besar kalian adalah menggenapkan syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam. Hidupkanlah jihad. Tegakkan syari'at. Satukanlah ummat." (hlm. 18)

Seperti kutipan risalah tersebut, keinginan mulia Pangeran Haryo Diponegoro harus tersampaikan ke generasi selanjutnya dengan sebuah semangat yang sama.

Maka, bagi saya itulah pesan utama novel setebal 631 halaman ini. Bahwa sejatinya muslim Nusantara dinantikan oleh dunia Islam menjadi pemimpin peradaban umat. Maka seyogyanyalah memantaskan diri untuk mengembangkan amanah tersebut. Pun memberi kontribusi terbaik untuk dakwah rahmatan lil alamin.

Lewat novel ini, boleh jadi  penulis juga ingin memperlihatkan sosok Diponegoro lebih pribadi. Pembaca seolah ikut berbaris di belakang sang pangeran saat berkecamuk perang Sabil antara tahun 1825 sampai 1830.

Di lain kesempatan turut duduk di lantai penjara Fort Rotterdam. Betapa rasa sedih, kecewa, bahagia, marah, juga dialami Karaeng Jawa ini.

Putra sulung Sultan Hamengkubuwono III ini bukanlah superman. Ada cukup banyak teman yang siap mempertaruhkan jiwa berjihad membersamainya. Termasuk mereka, generasi terakhir tentara Turki Usmani (Jenissary).

Membaca novel terbitan Pro-U Media 2019 lalu, menyisakan banyak kesadaran dan pembelajaran kehidupan. Haru, syahdu dan menderu. Sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin belajar dari tokoh besar yang pernah ada di bumi Nusantara.

Dan kabar baiknya, Sang Pangeran adalah novel pertama dari tetralogi para pahlawan Nusantara. Semoga novel ini, meskipun bergenre fiksi, dapat turut meluruskan beberapa artikel sejarah yang terkadang tidak proporsional.
Kalian sudah baca?

***
Biodata novel
Pengarang: Salim A Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Cetakan: 1 tahun 2019
Tebal: 631 halaman

#semuabacasangpangeran #sangpangerandanjanissaryterakhir
Share:

Kamis, 10 Oktober 2019

Hijrah Asmara; Perihal Cinta Unik dengan Konflik Apik

Dari mata turun ke hati. Istilah ini berlaku untuk novel Hijrah Asmara. Sejak melihat covernya saya sudah langsung terkesima. Konsep cover terbilang sederhana dan pilihan warna yang juga simpel. Tapi bagi saya, ngena banget!

cover yang enak dipandang

Sesuai dengan judulnya, novel berkisah tentang perjalanan cinta seorang mahasiswi bernama Ara. Fatih, lelaki yang sejak pertama Ospek memikat hati Ara, nyatanya bersedia menjadi pacarnya. Ara senang sekaligus galau sebab orang tuanya terlebih papa melarangnya berpacaran.

Tema cinta, mungkin ini terkesan biasa. Tapi, yang menjadikan novel ini berbeda dengan kisah cinta lainnya adalah konflik yang telah disiapkan oleh penulis.

Di bagian kejadian perselingkuhan yang dialami Ara adalah contoh konflik tak terduga. Meski disayangkan setelahnya konflik cendung datar.

Terdapat beberapa tokoh dengan porsi yang pas dan saling melengkapi.  Sosok Ara yang lembut. Fatih yang macho. Denis yang ceria. Arman yang berwibawa. Arum yang lugu. Serta papa dan mama.

Saya sendiri kagum pada tokoh Denis. Selain juga pada kedua orang tua Ara yang selalu membimbing anaknya agar tidak salah langkah. Sepertinya novel ini tidak hanya baik dibaca oleh remaja. Para orang tua juga direkomendasikan membacanya. Sebab mendidik anak butuh ilmu. Dan sosok papa dan mama Ara cukup bisa dijadikan contoh.

Ada fokus lain yang menurut saya menjadi keistimewaan novel setebal 213 halaman ini yakni menampilkan tokoh Arman dan Arum. Dua bersaudara ini mendirikan rumah baca serta melakukan berbagai aksi guna mengajak orang terbiasa membaca.
sejarah perpustakaan Canai

Mereka adalah pejuang literasi. Ide tentang menumbuhkan minat baca adalah ide cemerlang. Tidak banyak novel bertema cinta yang juga menceritakan hal yang berhubungan dengan literasi.


Latar tempat juga tergolong tidak biasa. Bahkan penulis membahas objek wisata Gili Lawang dan Gili Sulat. Ini bisa jadi bagian dari promosi wisata. Keindahan alam tersampaikan dengan baik.

Ada juga kuliner khas Lombok yakni ayam taliwang dan plecing kangkung. Sebenarya saya menunggu resep dan tata cara masak ayam taliwang ala Arman tapi tidak dimuat. Menulis resep makanan di novel keren juga lho!

Adapun dari sisi tehnis, saya merasa cukup terganggu dengan pilihan font huruf pada judul tiap bab. Sulit terbaca karena font berbentuk huruf miring bersambung jadi terkadang saya lewatkan saja. Tidak membaca judul babnya.

Tentang ending, penulis cukup baik hati dengan memberikan kejutan manis. Saya katakan manis sebab di prolog kesannya akan berakhir hampa. Ternyata pembaca terkecoh.

serius baca novel

Menulis satu novel oleh dua orang mungkin memiliki tantangan tersendiri. Saya pikir tidak mudah. Maka saat novel ini hadir, saya mengapresiasinya. Pesan moral yang disampaikan lewat tokoh bisa menginspirasi pembaca.

Buat yang belum membaca Hijrah Asmara, segera beli dan baca bukunya. Insyaalah ada hikmah menyertai kisahnya. Selamat membaca!

***

Idetitas Buku
Judul: Hijrah Asmara
Penulis: Madun Anwar dan Sukma El-Qatrunnada
Penerbit: Loka Media
Tahun: 2019
Tebal: 213 hlm.
ISBN: 978-602-5509-18-6
Share:

Sabtu, 25 Mei 2019

Beauty and the Beast; Tak Hanya Cantik, Tapi Juga Mandiri

Pernah mendengar kisah Beauty and The Beast?
Kisah ini sama melegendanya dengan Cinderlela, Rapunzel atau juga Peterpan. Kisah cinta dengan romantikanya yang banyak diadaptasi ke berbagai pertunjukan opera, layar lebar, serial televisi, animasi serta lagu.

Meski memiliki banyak versi, versi karya Gabrielle Suzanne Barbot atau lebih dikenal Madame de Villeneuve yang terbit pertama kali pada tahun 1740 adalah paling populer dan lengkap. Dengan judul asli La Belle et la Bete, berkisah tentang seorang gadis bernama Belle, si jelita dan moster bernama Beast.


Kisah di bagi atas dua bagian. Bagian satu, The Beauty. Bermula dari perubahan nasib yang dialami keluarga Sang saudagar membuat kesedihan tak terkira terjadi pada saudari-saudari Belle. Belle dengan berbagai upaya mengembalikan kecerian di keluarganya.

Saat pada satu kesempatan Sang saudagar melakukan perjalanan ke kota, ia mendapat banyak pesanan dari anak-anaknya. Termasuk Belle yang hanya meminta dibawakan bunga mawar.  Sebab rasa sayang pada Belle, sang Saudagar tidak berpikir ulang saat melihat barisan mawar di taman istana tak berpenghuni dengan langsung memetiknya.

Kemarahan Beast sebab tindakan sang Saudagar harus ditebus dengan merelakan salah satu putrinya tinggal di istana. Inilah awal pertemuan Belle dengan Beast.

Bagian dua, The Beast. Sudut pandang bercerita berganti pada sang moster. Sebagian besar kisah berupa penjelasan masa lalu Belle, Beast, dan kehidupan para peri yang melindungi mereka. Tak hanya pangeran yang dikutuk menjadi Beast namun juga Belle sebelumnya pun telah dikutuk menjadi istri monster.

Sebagai kisah romance, saya merasa kisah ini unik dengan konflik yang rumit, tertata rapi di sepanjang bab. Selalu ada kejutan. Jauh dari kesan, cerita cinta biasa. Tone bercerita termasuk cepat hingga tidak membiarkan pembaca bosan menunggu kelanjutan nasib tokoh.

Seperti pada keterangan kisah di akhir buku bahwa meski hanya cerita fiksi, ada banyak pesan yang ingin disampaikan penulis. Berbeda dengan kisah cinta dengan tokoh perempuan lainnya, karakter Belle adalah perempuan mandiri, teguh pendirian dan rasional. Ia tidak ikut larut bersedih saat kehidupan keluarganya mendadak miskin. Ia menentukan nasibnya sendiri untuk mau tinggal di istana atau menerima tawaran menikah dengan Beast.
Artinya bahwa perempuan tidak hanya dinilai dari sisi fisik tetapi juga keinginan dan pendapatnya.

Selain itu, kisah Beuty and the Beast menjadi refresentasi penolakan adat yang berkembang di masa dan tempat lahirnya novel. Perempuan tidak boleh menerima perjodohan atas dirinya. Dan setelah menikah maka suaminya menjadi penguasa atas nasib perempuan. Gambaran nasib perempuan yang selalu dituntut oleh kaum feminis.

Hal lain yang juga menguatkan persfektif bahwa perempuan bisa setara dengan laki-laki dalam hal pengetahuan adalah adanya adegan Belle memiliki kegemaran membaca buku, piawai memainkan berbagai alat musik serta memiliki keterampilan life skill. Saya pikir, novel ini layak diapresiasi sekaligus menjadi pembelajaran bagi para remaja putri. Kecantikan fisik bukan satu-satunya yang perlu dibanggakan oleh seorang perempuan.

Kalimat "mereka hidup bahagia selamanya" juga berlaku di kisah Belle. Tetapi saya jamin, kisah ini tidak membosankan. Selamat membaca!


***

Identitas Buku
Judul: Beauty and the Beast
Penulis: Madame de Villeneue
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Penerbit: Qanita
Cetakan: 1/2017

Share:

Senin, 13 Mei 2019

Ternyata Ada Banyak Cara Membenahi Perilaku Anak

Mungkin tidak semua orang berkesempatan secara khusus belajar cara mendidik anak. Namun setelah menikah, orang tua dituntut memiliki keterampilan mengasuh dan mendidik anak.

Agar tidak menjadi orang tua yang salah mendidik, perlu terus belajar, bertanya, membaca dan memperbaiki diri.
Buku 500 Cara Membenahi Perilaku Anak membantu para orang tua untuk memilih respon positif ketika menghadapi bermacam tingkah pola si kecil.

Tiap anak memiliki karakter masing-masing. Perlu pendekatan yang boleh jadi tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya. Dan orang tua mesti mengenali karakter anak dengan baik.

Apa sich perilaku anak yang paling sering membuat orang tua emosi?
Suka berantem, minder, penakut, agak mau ikut aturan, atau mudah marah. Kayaknya kalau mau dilist lumayan banyak.

Namun ada satu hal yang perlu dipahami orang tua bahwa perilaku buruk tersebut dapat diperbaiki. Dan terkadang bukan karena anak tersebut 'nakal' melainkan keterbatasan anak dalam mengekspresikan keinginan atau pendapatnya.

Orang tua diharapkan memahami kondisi sebenarnya dari masing-masing perilaku anak. Ada 10 perilaku anak yang dibahas di buku setebal 364 halaman inu yakni pemarah, gemar berkelahi, suka merajuk, susah tenang, tidak ikut aturan, susah tidur, penakut, kurang percaya diri, susah berkonsentrasi, serta anak yang sedang belajar bicara. Dengan masing-masing 50 cara pada tiap perilaku.

Sebagai contoh misalnya bagaimana membenahi perilaku anak yang kurang percaya diri.
Sejatinya, rasa percaya diri bukan bawaan lahir tapi bertumbuh seiring usia. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan diri anak diantaranya kondisi keluarga, pola asuh, serta perspektif lingkungan.

Anak yang bersifat pemalu bukan berarti ia tidak memiliki rasa percaya diri. Ia tetap bisa mengungkapkan pendapatnya atau tampil di hadapan umum.

Untuk itu, beberapa cara menumbuhkan percaya diri anak terkait pemahaman orang tua terhadap anak. Seperti menerima anak apa adanya, tidak perlu membandingkan anak, mendengar pendapat anak, atau orang tua juga bisa salah.

Beberapa bagian berupa aksi bersama yang dilakukan orang tua bersama anak. Contohnya menata kamar. Anak dapat belajar mengambil keputusan dengan meletakkan barang-barang di kamar sesuai keinginannya. Sembari orang tua bertanya tentang keputusan sang anak tersebut.

Cap kaki dan tangan, album foto, serta kenal diri adalah aksi referensi lainnya. Penjelasan masing-masing aksi bisa baca langsung di bukunya ya.

Menurut saya, aksi atau aktifitas bersama orang tua dan anak tersebut tidak hanya fokus membenahi perilaku tertentu. Namun juga bermanfaat untuk mengembangkan berbagai kecerdasan anak. Dengan aksi menggambar ekspresi, anak akan belajar mengenali kondisi perasaan dirinya dan orang lain. Hal ini mengasah sisi kecerdasan emosional anak. Bonusnya adalah, dengan melakukan aktifitas bersama akan tumbuh kedekatan orang tua dan anak. Manfaat sekali ya!

Karena pembahasan buku memang dibuat poin per poin maka membaca bukunya bisa cepat selesai, tapi prakteknya yang butuh waktu lebih lama.

Saran saya, orang tua bisa mencoba memperbaiki salah satu perilaku anak dengan 50 langkah yang direkomendasikan pada buku ini. Jika telah berhasil, bisa melanjutkan perbaikan perilaku lainnya.

Cara-cara yang ada tentu saja hanya akan berhasil jika ada kerjasama ayah dan ibu sebagai tim yang solid. Butuh waktu beradaptasi baik orang tua maupun anak dalam mempraktekkan kebiasaan baru. Tidak perlu terburu-buru. Terpenting mau memulai pembenahan.

Sejak pertama melihat buku ini, saya langsung suka. Sampul buku terkesan 'lembut' dan bersahabat. Tampilan isi buku  nyaman dibaca dengan variasi huruf yang dicetak berwarna. Buku rekomendasi untuk para orang tua anak-anak milenial.

* * *
Identitas Buku
Judul: 500 Cara Membenahi Perilaku Anak
Penulis: Kusumastuti
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: 1 tahun 2019
Share:

Selasa, 30 April 2019

Novel Fantasi Rasa Ensiklopedi Karya Tere Liye

Resensi Novel Ceros dan Batozar, Komet serta Komet Minor


Sejak di rilis pada 2014  lalu, novel remaja bergenre fantasi seri Bumi selalu mendapat apresiasi luar biasa dari pembaca. Hingga 2019, telah terbit tujuh seri yakni Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceros dan Batozar, Komet serta Komet Minor.

Tokoh utama petualangan antar klan ini adalah tiga siswa SMA yakni Raib, Seli dan Ali. Ketiganya meski tampak seperti remaja lainnya namun mereka memiliki kekuatan khusus yang didapat dari keturunan.

sampul novel ceros dan batozar, komet & komet minor

Raib berasal dari klan Bulan, memilki kemampuan menghilang atau teleportasi. Seli dengan kemampuan mengeluarkan petir dari tangannya adalah generasi klan Matahari. Sementara Ali yang asli klan Bumi tapi juga memiliki nenek moyang dari klan Aldebaran dapat berubah wujud menjadi beruang.

Berbeda dari seri sebelumnya yang masing-masing memiliki kisah petulangan di klan tertentu. Tiga seri terakhir merupakan rangkaian petualangan mengalahkan si Tanpa Mahkota.

Sebagai pembuka, di buku Ceros dan Batozar, pembaca diperkenalkan pada tokoh yang kelak akan menjadi sekutu Raib dan kawan-kawan. Ceros merupakan jelmaan wujud Nggalanggeran dan Nggalanggeram.  Si kembar yang ternyata memiliki masa lalu dikhianati oleh Si Tanpa Mahkota. Sementara Batozar akan menjadi pendamping yang bisa diandalkan selama petualangan di Klan Komet Minor.

Kisah semakin tegang di buku selanjutnya, Komet. Klan ini bukan tujuan, hanya petunjuk untuk menuju keberadaan pusaka tombak ajaib. Di pulau terakhir, yakni pulau Hari Minggu terdapat portal menuju Komet Minor.

Ada dua tokoh baru yakni pasangan kakek Kay dan nenek Nay. Uniknya, di setiap pulau yang dilalui oleh Raib, Seli dan Ali selalu ada kembaran Kay dengan berbagai latar belakang berbeda. Nelayan, pemilik restoran, petani, perampok, bahkan raja. Buku Komet ditutup dengan peristiwa menyakitkan. Sebuah penghianatan teman dekat harus dialami di detik-detik terakhir saat terbukanya portal menuju klan Komet Minor.

Sebuah keajaiban dalam kisah adalah hak mutlak penulis. Namun akan terasa aneh jika keajaiban hadir tanpa sebab akibat. Di sinilah saya melihat ketelitian seorang Tere Liye. Memberi seolah keajaiban namun tetap dapat diterima logika. Kehadiran Batozar adalah salah satu keajaiban di buku Komet Minor. Selain keajaiban lainnya di akhir kisah lewat kejeniusan Ali membeli jel duplikat barang.

Sepanjang kisah, pembaca selalu dibuat tegang oleh aksi kejar-kejaran memperebutkan tombak pusaka. Diskripsi alam yang menjadi medan laga dipadu kondisi emosi tiap tokoh menjadikan petualangan terasa begitu hidup.

Sungguh, saya seolah ikut menahan nafas saat tubuh Seli diikat oleh jaring dari cairan hijau cacing pasak.

Ketiga novel ini memang menegangkan tapi jangan khawatir membuat pembaca bosan. Tetap ada lelucon khas remaja, candaan gaya Batozar atau keusilan yang tak terduga. Bahkan sisi paling sentimentil juga melengkapi kisah.

Bagaimana seorang buronan kriminal yang paling dicari di klan Bulan tidak lagi peduli atas apapun hanya 'sekadar' ingin menyaksikan kembali wajah anak dan istrinya. Bagaimana si cuek Ali dengan sangat mengagumkan berbicara tentang makna keluarga meski ia sendiri tidak tahu kapan ayah dan ibunya dapat berkumpul bersama.

Jika ada kelebihan lain dari tiga novel ini, bagi saya adalah pesan moral khususnya bagi remaja sebagaimana segmen utama pembacanya. Berbagai penjelasan ilmiah dalam novel menjadi pelajaran mengasyikkan. Jika kebanyakan anak SMA, --saya juga mengalaminya puluhan tahun lalu--, merasa bosan dengan pelajaran biologi, fisika, atau saint lainnya maka menjadi berbeda dengan buku ini. Saya jusru penasaran mengetahui banyak hal lainnya setelah penjelasan Ali. Seperti kata Seli, boleh jadi Ali hanya mengarang-ngarang saja, ha... ha... ha....

Saya jadi berhayal andai guru-guru saint punya wawaan luas seperti Ali.  Akan ada kisah indah lainnya di masa SMA. Tak melulu tentang cinta monyet atau cabe-cabean ala kids zaman now!

Lebih jauh, saya menafsir novel ini membawa semangat memajukan ilmu dan tehnologi di kalangan generasi muda. Indonesia bangsa yang besar dengan segenap sumber daya alamnya tentu sangat membutuhkan tehnologi lebih canggih. Jangan sampai kekayaan Indonesia hanya untuk memanjakan mata namun tidak maksimal dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat.

Generasi muda harus memiliki wasasan luas, punya insiatif melakukan hal kreatif. Meski untuk itu terkadang dipandang aneh oleh kebanyakan orang. Tak masalah. Bukankah berpikir out of the book menjadi gaya hidup para millenial.

Tetapi, tehnologi adalah urusan otak. Hanya mengandalkan otak hanya akan menciptakan Si Tanpa Mahkota versi dunia nyata. Sibuk memperhebat diri sendiri tanpa peduli dengan sekitar. Melakukan apapun termasuk menyakiti orang lain demi ambisi pribadi. Novel ini mencontohkan keseimbangan. Otak dan hati. Akal dan budi.

"Hanya karena sesuatu itu terlihat buruk, tidak otomatis menjadi buruk betulan. Pun sebaliknya, hanya karena sesuatu terlihat baik, tidak otomatis memang baik sesungguhnya. Mungkin saja ada hikmah yang tersembunyi, yang tidak kita pahami. Biarlah dunia paralel menjaga keseimbangannya." (hlm 366)

Nilai kesetiaan, pengorbanan, pantang menyerah, berempati, kerjasama hingga saling memaafkan adalah karakter yang sejatinya menjadi penyeimbang dalam kehidupan.

Saya tidak ingin menyebut kekurangan hanya saja ada hal yang menurut saya mungkin  akan lebih komplit jika di kisah juga menceritakan saudara kakak atau adik. Ketiga tokoh semuanya anak tunggal sehingga interaksi dalam keluarga terbatas pada orang tua. Itu pun semua baik-baik saja kecuali Ali yang tidak jelas keberdaan orang tuanya.

Ada kesan bahwa ketiganya remaja 'bebas'.  Jika saja salah satu tokoh memiliki saudara akan ada dinamika. Misalnya konfik antar saudara atau saudara yang iri atas kemampuan khusus yang dimiliki saudaranya. Atau malah sebaliknya, saudara yang siap membantu kapanpun. Keutuhan sebagai keluarga menjadi penting mengingat saat ini banyak remaja jauh dari keluarga.

Sebagai bacaan segmen remaja, novel ini sangat rekomendasi. Layak diapresiasi. Novel fantasi karya anak bangsa yang tidak kalah keren dengan novel fantasi best seller dunia. Saya percaya itu!

Oh iya bahkan secara khusus, novel ini wajib dibaca para guru mata pelajaran eksakta. Semoga seusai membacanya, tidak lagi menjadi guru yang membosankan. Hanya mengulang penjelasan yang sama ribuan kali setiap tahun. Padahal ilmu pengetahuan terus berkembang.

Sesaat terpikir jika saja seri Bumi termasuk tiga seri terakhir diadaptasi ke layar lebar. Boleh jadi akan samakin memperluas jangkauan penikmat kisah petualangan Raib dan kawan-kawan. Biasanya juga penonton film ikut penasaran membaca bukunya langsung.

Namun boleh jadi juga justru mengacaukan imajinasi pembaca atas kemajuan tehnologi di klan lainnya. Jadi biarkan saja penulisnya mempertimbangkan ide untuk mengikuti jejak novel karyanya yang lain yang lebih dulu difilmkan atau tidak.

Karena kisah bersambung tentu lebih baik membacanya Ceros dan Batozar, Komet serta Komet Minor berurutan. Namun kalua pun baru menemukan salah satunya juga tidak masalah untuk langsung dibaca.

Saya sendiri membaca Komet terlebih dahulu sebelum Ceros dan Batozar dan disusul Komet Minor. Karena memakai alur kisah maju tidak sulit memahami kisahnya. Jika bertemu pada tokoh atau kejadian di ser sebelumnya akan ada di keterangan foot note.

Dua buku (Ceos dan Batozar serta Komet) saya baca versi ebook. Sementara Komet Minor versi buku fisik. Dengan tentu saja hanya membaca buku asli, bukan bajakan. Saya tahu betul bahwa penulisnya (juga semua penulis) sangat mengharamkan tindak pencurian intelektual seperti pembajak buku.

Jadi teringat cerita adik ipar saya yang baru saja perpisahan. Sejak naik kelas XII, mereka diumumkan untuk menyumbang satu buku untuk perpustakaan sekolah. Ia dan gangnya sepakat membeli novel seri Bumi dengan judul berlainan.

Sebelum mengumpulan buku tersebut ke wali kelas, mereka akan bergiliran membaca dengan saling pinjam. Wow... cara cerdas  membaca buku sekaligus menyumbang buku ala anak SMA!

Sama halnya yang ditulis Tere Liye berulang-ulang di status facebooknya bahwa banyak cara membaca bahkan tanpa mengeluarkan uang. Kalaupun ingin mengoleksi bukunya, pastikan hanya yang asli ya!

Akhirnya meski di sampul belakang buku ditulis bahwa ini laga terakhir melawan Si Tanpa Mahkota, bukan berarti petualangan usai. Akan ada seri selanjutnya. Selamat menanti. Jika ada novel fantasi rasa ensiklopedi, inilah jawabannya! Super badass!
.
.

Biodata Buku
Judul: Ceros dan Batozar, Komet, Komer Minor
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018, 2019, 2019
Tebal halaman: 376,  386, 376
Share:

Minggu, 10 Februari 2019

Resensi Novel Bilangan Fu; Perlawanan atas Eksploitasi Kecantikan Alam

Selaras ujaran Seno Gumiro Aji Dharma, "ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara," begitulah novel Bilangan Fu mengambil perannya. Melalui tokoh Yuda dan Parang Jati,  perjalanan pendakian gunung menjadi tidak sesederhana yang terlihat.

"Sebab, di sebuah batas, para pemanjat tak lagi menaklukkan dirinya, melainkan mengumbar nafsu kegagahan." (hlm. 345)

Tema clean climbing menjadi titik puncak metafor perlawanan seorang Ayu Utami di Bilangan Fu.

kekuatan metafor Bilangan Fu memenuhi hampir semua ranah fiksi. Sebut saja penggambaran sosok Parang Jati sebagai malaikat yang diturunkan untuk menyelamatkan kesucian daerah Sewugunung dengan perbukitan gamping Watugunung. Fisik Parang Jati diceritakan memiliki jari 12 sejatinya pentasbihan atas kelebihan yang dimilikinya. Selain kelahirannya yang misterius dan kemudian diangkat anak oleh seseorang yang juga penuh kontroversi, Suhubudi. Atau metafor lubang pada tebing Batu Bernyanyi sebagai Sebul.

Berbeda dari banyak novel lainnnya yang meskipun melakukan perlawanan namun tetap menempatkan fiksi sebagai dominasi cerita. Bilangan Fu secara lugas menuturkan tiap nama, kejadian, tempat dan waktu secara jelas.

Seperti perilaku militerisme yang menginjak-injak kebebasan bersuara dan hak asasi pada masa kepemimpinan presiden Soeharto. Boleh jadi ini menjadi nilai lebih Bilangan Fu. Namun akan membingungkan jika akhirnya harus dikategorikan sebagai karya sastra.

Padahal, tanpa menyebut merek sekalipun, pembaca sudah memahami siapa yang dimaksud. Berbanding terbalik dengan banyaknya kiasan di bagian kisah lainnya yang justru adalah fiksi semata. Unik.

Biangan Fu dibagi atas 3 bab. Ketiganya adalah simbol yang ingin dilawan oleh penulis yakni  modernisme, monoteisme dan militerisme.

Sebagai karya sastra yang sarat muatan ide, ia bebas berekspesi mendoktrin keyakinan lewat sang tokoh. Namun sebagai pembaca ada beberapa doktrin yang saya setujui. Namun di bagian lain saya tidak begitu sependapat.

Tentang menjaga keperawanan alam adalah hal yang paling saya amini. Sebab, kapitalisme telah menghalalkan semua hal demi tambang kekayaan yang tak habis tujuh keturunan. Namun sayangnya, upaya para pencinta alam lewat mimbar aksi tak mampu menghentikan buldozer pembantaian pertiwi. Dan saya menangkap hal tersebut tersirat di ending novel.

Membaca Bilangan Fu adalah menguliti diri sendiri. Sebab ada banyak hal yang menjadikan wujud kita hari ini ternyata adalah warisan leluhur. Diterima begitu saja tanpa sedikit saja terusik oleh naluri ingin tahu. Olehnya, spiritualisme kritis bertaruh untuk kewarasan akal budi manusia.

Hal lain yang tetiba mengusik saya yakni perihal gender. Sebenarnya saya tidak terlalu peduli pada isu gender termasuk di dunia sastra. Tetapi ketika menghadapi Bilangan Fu yang ditulis oleh novelis perempuan, saya mulai bimbang. Tokoh Marja justru diletakkan pada prototipe perempuan dalam kontek patriarki.

"Wajah Marja sungguh-sungguh pucat.... Aku bertanya ada apa, tapi ia hanya bilang bahwa ia tiba-tiba ketakutan dan ingin dikeloni," (hlm. 364)

Mengapa tidak mejadikan Marja sebagai perempuan buas. Atau justru demikian totalitas keberpihakan penulis atas budaya lokal yang terasa lebih menyayangi alam dan segenap ekosistemnya.

Tentang bilangan Fu sendiri yang menjadi judul novel, diakhir hanya diberi kesimpulan sebagai bilangan yang tertulis di segumpil batu endapan yang ditemukan di kantong kemeja Parang Jati saat tubuh itu telah kaku. Lalu penjelasan sebagai bilangan yang senantiasa menghasilkan satu tetapi bukan satu, saya pikir masih perlu penelaahan lagi.

Lepas dari pro kontra, Bilangan Fu telah memberi warna tersendiri terhadap rupa sastra Indonesia. Beragam hipotesa meruap-ruap dengan lincah dikedalamnya. Tak kurang kisah Nyi Rara Kidul, Babat Tanah Jawi,  legenda Sangkuriang, kerajaan Mataram, Tuyul Jahanam hingga perseteruan Polisi dengan TNI AD menyesaki Bilangan Fu.

Setelah lebih dari sepuluh tahun, Bilangan Fu tetap menyimpan ruang mistis yang belum tuntas terdedahkan oleh puluhan bahkan  ratusan ulasan maupun komentar pembaca. Selamat untuk penulisnya!

***

Judul: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Tahun: 2008
Share:

Senin, 26 Maret 2018

Pengasuhan Anak Butuh Lebih dari Cinta

Diantara peran utama sebuah keluarga adalah pengasuhan anak. Orang tua punya tanggung jawab besar terhadap tumbuh kembang anak. Meski pada faktanya, cukup banyak keluarga yang belum optimal melaksanakan peran tersebut.

Berbagai kendala kerap ditemui. Baik dari internal keluarga seperti kesalahan paradigma tentang pendidikan, keterbatasan pengetahuan maupun belum tercipta komunikasi efektif antar anggota keluarga.


Atau permasalahan yang hadir dari eksternal keluarga semisal lemahnya dukungan lingkungan guna menciptakan kondisi kondusif terhadap peningkatan kecerdasan anak.

Di buku setebal 194 ini mejelaskan tentang berbagai hal yang harus segera dilakukan oleh keluarga agar hubungan antara anak dan orang tua tidak sekadar berdasarkan cinta. Tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya, tentu saja. Tetapi bagaimana keluarga mampu memberi 'nilai' terhadap cinta tersebut.

Sebagai contoh sikap bijak orang tua ketika memuji anak. Jangan sampai pujian justru menjadikan anak tidak percaya diri dan mengandalkan motivasi dari luar. Tetapi pujilah anak atas dasar perbaikan diri sendiri serta dilakukan secara spontan dan tulus.

Ada lima prinsip pengasuhan mencintai dengan lebih baik.  Pertama, keluarga kita mencintai dengan cari cara sepanjang masa sebab pengasuhan adalah proses untuk tujuan jangka panjang.

Kedua, keluarga kita mencintai dengan ingat impian tertinggi yang dimiliki bersama. Orang tua akan percaya bahwa anaknya mampu tanpa perlu pembuktian terlebih dulu.

Ketiga, keluarga kita mencintai dengan menerima tanpa syarat. Keempat, keluarga kita mencintai dengan tidak takut salah. Semua ikut bertanggung jawab dan berkontribusi untuk perbaikan pola pengasuhan.

Kelima, keluarga kita mencintai dengan asyik bermain bersama agar tercipta kedekatan antar anggota keluarga.

Komunikasi yang dibangun antar anggota keluarga haruslah membuat kedekatan. Seolah terlihat sederhana akan tetapi masalah komunikasi akan sangat menentukan hasil akhir interaksi dalam keluarga. Jadi tidak benar jika ada asumsi mengatakan bahwa waktu akan menyelesaikan masalah.

Dalam hubungan keluarga, seberapapun kecilnya masalah mesti dibicarakan dan diselesaikan. Dan komunikasi efektif adalah pilihan untuk  menyampaikan perasaan dengan tepat.

"Salah satu yang paling sulit dari menjadi orang tua adalah belajar memahami bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan." (Hlm. 26) Artinya ada faktor diluar kendali orang tua yang juga menentukan keberhasilan pengasuhan anak. Diantaranya pengaruh sosial dan dunia luar. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk senantiasa mencari pola pengasuhan paling tepat.

Di setiap akhir bab ditutup dengan beberapa pertanyaan sesuai topik bahasan. Juga terdapat poster tahap perkembangan anak usia 0 sampai 12 tahun.

Tak hanya sebatas lingkup keluarga, di buku ini juga dibahas tentang pemilihan sekolah sesuai kondisi dan kecendrungan anak. Lebih dari sebatas tampilan fisik dan fasilitas sekolah, budaya sekolah harus sejalan dengan tujuan dan pola pengasuhan di rumah.

Serta bagaimana menjalin kerjasama pihak sekolah dengan orang tua. Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan di sekolah menjadi motivasi para guru untuk terus memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya.

Sebuah buku yang direkomendasikan bagi para orang tua sebagai panduan pengasuhan anak.
.
.
Identitas buku
Judul : Keluarga Kita; Mencintai dengan Lebih Baik
Penulis : Najelaa Shihab
Penerbit : Buah Hati, 2017
Tebal : 194 hlm.
Share:

Rabu, 23 Agustus 2017

Bersiap Menjadi Orang Tua Sukses

Meski dalam lagu dikatakan, kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Namun dalam proses pengasuhan ada banyak sekali ujian kesabaran yang dilalui seorang ibu. Memiliki anak dengan beragam karakter tentu bukan hal mudah untuk senantiasa mengendalikan emosi.
Bagaimanapun, ibu adalah manusia biasa yang terkadang karena rasa letih tanpa sengaja melakukan kekerasan pada anak. Baik kekerasan verbal berupa perkataan menyakitkan, menghardik dan sejenisnya. Atau kekerasan fisik seperti memukul, mencubit dan lainnya.

Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap biasa. Bahkan lebih parah, cukup banyak kasus yang akhirnya dimejahijaukan karena kekerasan yang dilakukan orang tua (termasuk ibu) pada anaknya. Berbeda menurut Kiki Barkiah, penulis buku Satu Atap Lima Madrasah, bahwa kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, kita tengah mengajarkan tentang hak untuk melakukan hal yang sama. Kala tangan jita diayun untuk memukul mereka, yang ada hanyalah rasa sakit dalam lahir dan membekas dalam batin (hlm. 23).

Maka sebisa mungkin seorang ibu menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak mengikuti nafsu syaitan. Sejatinya anak-anak hanya butuh latihan untuk mampu menyampaikan keinginan atau kekecewaannya secara seharusnya. Secara bercerita, Kiki mengungkapkan berbagai kondisi yang ditemuinya selama mendampingi kelima anaknya. Keputusan keluarga mereka untuk menerapkan homeschooling memberi kesempatan lebih banyak pada orang tua berinteraksi dengan anak. Semua aktifitas keseharian menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Untuk mencapai tujuan pengasuhan anak harus ada perencanaan yang matang, kerjasama semua anggota team serta avaluasi berkelanjutan. Team yang dimaksud adalah orang tua (Ayah-Ibu), anak-anak, keluarga besar (Kakek, Nenek, Paman, Bibi, dan seterusnya), juga orang yang ada di rumah seperti asisten rumah tangga.

Sebagai orang tua tentu ingin selalu memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Namun jangan sampai orang tua melalaikan sisi kemandirian anak. "Kami tidak dapat menjamin bahwa warisandalam bentuk harta bagi anak-anak akan tetap ada an bermanfaat secara berkah.... Tetapi kami yakin bahwa menanamkan keimanan dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat akan terus menjaga mereka meski kelak kami telah tiada." (hlm. 107)

Dari kejadian yang dialami penulis, pembaca bisa belajar bagaimana bersikap bijak menghadapi bermacam perilaku anak. Baik yang sebabnya mungkin sederhana semisal meminta perhatian, tidak ingin berbagi mainan atau saat tantrum. Maupun perilaku kritis anak yang terkadang tidak terpikirkan oleh orang tua seperti pertanyaan seputar pendidikan seks, kesalahan orang tua dan ketidakadilan di sekitarnya.

Karena ditulis berdasarkan kisah sebenarnya, maka jangakauan buku ini lebih khusus mengupas problematika orang tua menghadapi anak usia balita hingga pra baligh (remaja awal). Tentu ini menjadi peluang untuk kembali menulis kisah selanjutnya sesuai tahap perkembangan anak.   


Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadi orang tua sukses dunia akhirat. Yang dalam konsep penulis  adalah orang tua yang mampu melahirkan generasi yang lebih baik menurut Al-Qur'an melalui madrasah pertama dan utama yakni keluarga. Buku kumpulan kisah berhikmah seputar mendidik anak ini direkomendasikan bagi setiap orang tua. 

Selamat membaca!

***

Identitas buku
Judul: Satu Atap Lima Madrasah
Penulis: Kiki Barkiah
Penerbit: Mastakka Publishing, 2017
Tebal: vi + 249 hlm.
Share:

Kamis, 02 Februari 2017

Mendidik Anak Lewat Marah, Bisa?

Menurut para psikolog, marah merupakan salah satu emosi dasar manusia. Artinya setiap orang memiliki potensi marah yakni sikap yang timbul karena ketidaksukaan atas sesuatu atau kejadian. Meski demikian, penyebab dan wujud dari emosi marah bisa bermacam-macam tergantung perspektif atau cara pandang seseorang. 

Ada sebagain besar orang tua mewujudkan marahnya melalui bentakan, pukulan, kata-kata kasar, mata melotot dan sejenisnya. Atau sebagian lain spontan marah ketika anak membuat kegaduhan, memecahkan gelas atau mogok mandi. Beberapa kasus diungkapkan oleh Wening Wulandaru dalam bukunya Marah yang Bijak.

Tujuan paling umum orang tua melakukan marah adalah menginginkan anaknya tidak mengulangi lagi tindakan yang dianggap tidak menyenangkan orang tua. Namun kenyataannya, keinginan orang tua yang diwujudkan dengan marah tidak dipahami demikian oleh anak. Anak lebih cendrung menerima pesan bahwa orang tuanya kejam, diktakror, atau selalu marah-marah. Demikian hasil interview yang dilakukan oleh Bunda Wening, sapaan akrabnya kepada beberapa anak usia 4 sampai 8 tahun. 

Ada begitu banyak dampak buruk marah yang tidak terkendali bagi pelaku maupun korban. Secara psikologis, pelaku dan korban akan mengalami gangguan kejiwaan. Orang tua akan merasa anaknya sulit diatur hingga membuatnya selalu emosi. Anak akan merasa orang tuanya hanya menuntut tetapi tidak mau mendengar keinginannya. Kemudian dampak sosial dan masa depan anak juga sangat membahayakan. Secara tidak sadar orang tua akan mengajarkan berprilaku tempramental pada anak yang akan diwariskannya kembali.

Dengan demikian perlu ada evaluasi wujud marah orang tua, bukan menghilangkan emosi marah dalam pola pengasuhan. Bagaimanapun jika dikelola secara benar, marah justru memberi dampak positif baik bagi orang tua maupun anak. "Marah merupakan suatu bentuk komunikasi, mengkomunikasikan kekecewaan dan harpan-harapan pelaku," tulis direktur  Asy-Syifa Institute ini. Marahlah dengan baik dan benar. Bukan marah yang mengikuti hawa nafsu serta menimbulkan kerusakan. Melainkan marah yang semata menunjukkan ketidaksepakatan atas tindakan tertentu dan dengan wujud yang tidak menyakiti baik fisik dan psikis pihak dimarahi.

Nah, untuk bisa mengubah wujud marah yang cendrung destruktif, di buku tersebut penulis memaparkan beberapa langkah yang bisa dipraktekkan langsung. Dimulai dari tehnik relaksasi yakni aktivitas melibatkan pergerakan anggota badan secara mudah dan dapat dilakukan di mana saja guna membantu mengatasi stres. Seseorang yang memiliki tingkat stres yang tinggi akan berpotensi mudah mengumbar amarah bahkan terkadang hanya disebabkan permasalahan kecil.  

Tehnik pengendalian marah lainnya adalah breaking state yakni pemutusan pola dari suatu kondisi tertentu baik berupa ucapan maupun gerakan dengan tujuan untuk beralih ke kondisi yang baru. Dan tehnik ini bersumber dari hadist Rasulullah; “Apabila engkau marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Jika engkau masih marah maka berbaringlah dan jika masih  marah maka ambillah air wudhu.” (HR Abu Dawud) Diharapkan dengan mengubah posisi tubuh akan mengubah kondisi dan suasana hati.

Lalu jika ada orang tua mengatakan bahwa ia marah pada anaknya karena ia menyayanginya. Boleh jadi demikian bila saja wujud marah orang tua menjadikan anak menyadari kesalahnnya dan tidak mengulangi lagi. Bukan justru menciptakan jarak antara hubungan orang tua dan anak. 

Yuk para orang tua belajar marah!

***    

Identitas buku
Judul : Marah yang Bijak
Penulis : Bunda Wening
Penerbit : Tinta Medina, 2016
Tebal : xx + 107 hlm.

Share:

Selasa, 01 November 2016

Hadirkan Cinta dalam Pernikahan

Bagaimana pemahaman seseorang terhadap pernikahan akan sangat menentukan bagaimana kelak ia menjalaninya. Demikian catatan pertama dari buku Wonderful Family bahwa setiap orang harus menentukan motivasinya untuk menikah.

Beberapa kalangan memilih tidak menikah karena tidak suka menikah dan lebih memilih sendiri. Ada pula yang memilih tidak menikah agar bebas berganti-ganti pasangan. Atau ada yang menikah karena itu suatu kewajaran saja dalam masyarakat.

Bagi orang beriman ketika ia menikah sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang melakukan misi ketuhanan, tengah menjalankan risalah kenabian, tengah menunaikan tugas kemanusiaan, serta merintis pembangunan peradaban.

Bukan urusan suka atau tidak. Bukan pula pilihan gaya hidup. Pernikahan adalah ikatan yang tidak boleh diremehkan karena terjadi atas nama Tuhan. Motivasi inilah yang sejatinya dapat menyelamatkan keluarga dari beragam penyimpangan dan kehancuran.

Masalah dan ujian tentu saja akan tetap ada di keluarga manapun. Namun cara menyikapinya mestilah menentukan akhir episode masalah tersebut. Sepasang suami-istri perlu belajar merawat cinta di sepanjang kebersamaan mereka. Saling memahami kekurangan dan memaafkan kesalahan adalah cara jitu agar tidak menyimpan kekecewaan terhadap pasangan. Tentu saja, kebaikan pasangan lebih banyak dibanding kesalahannya bila kita mau jernih menilai.

Sebuah games diajukan penulis dengan meminta kita menuliskan daftar kebaikan pasangan di selembar kertas dalam waktu tiga menit. Jika dalam waktu tersebut anda hanya mampu menulis di bawah sepuluh kebaikan pasangan. Maka cobalah kembali memperhatikan dengan seksama suami atau istri anda. Tidakkah semua kewajiban yang dilakukannya adalah bentuk kebaikan?

Istri yang bangun pagi lalu menyiapkan sarapan. Membersihkan rumah, mengurus anak-anak, mencuci baju, berbelanja dan seterusnya. Suami yang berangkat bekerja, menyediakan uang belanja, membantu merawat rumah, mengantar anak-istri dan seterusnya. Itu semua kebaikan. Belum lagi kebaikan non materi. Kesabaran, kasih sayang, kesetiaan, pengorbanan, tanggung jawab dan sejenisnya. Akan banyak sekali daftar kebaikan pasangan anda. Dengan mengingat kebaikan tersebut keinginan untuk berbuat lebih baik akan hadir. Inilah cinta dalam pernikahan.

Selain itu, rutinitas sehari-hari kerap membuat jarak tak terlihat antara suami-istri. Masing-masing sibuk dengan tugas dan kewajiban yang berulang selama bertahun-tahun. Hubungan pernikahan mulai terasa hambar. Visi pernikahan perlahan mulai pudar. Maka sepatutnya keduanya mengingat kembali kemana arah pernikahan ditujukan.

Jangan sampai hal-hal yang harusnya bisa disepakati bersama seperti pembagian tugas kerumahtanggaan menjadi penghambat melajunya bahtera keluarga. Tidakkah cita-cita pernikahan ingin tetap bersama pasangan hingga ke Syurga?

***
Identitas buku
Judul: Wonderful Family; Merajut Keindahan Keluarga
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Tebal: 250 hlm.
Share:

Jumat, 28 Oktober 2016

Pastikan Kamu Sahabat Terbaik Pasanganmu

Coba perhatikan dengan seksama pasangan anda sekarang. Apakah dia masih sama seperti saat duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan sekian tahun lalu? Orangnya masih sama, tidak berbeda. Namun, pasti anda ada (atau banyak) perubahan dalam diri suami atau istri anda. 

Bukan hanya perubahan fisik tetapi juga pikiran, kepribadian, perasaan, keinginan, harapan juga permasalahan. Karena setiap kita berkembang dan berubah sejalan dengan beragam peristiwa yang dialami.

Untuk pertama kalinya, suami membelikan hadiah bunga untuk istri tercinta. Namun setelah diberikan reaksi istri datar saja. Sama sekali tidak ada kebahagiaan seperti dugaan suami. 

Beberapa hari kemudian sang suami bertanya, “sepertinya engkau tidak suka?”
“Bukan tidak suka, namun sayang jika uang hanya dibelikan bunga yang dalam waktu lima hari sudah layu. Akan lebih bermanfaat jika dibelikan perlengkapan rumah tangga,” jawab si istri.

Bahkan untuk hal kecil sekalipun, pasangan harus tahu apa yang lebih diinginkan pendampingnya. Interaksi suami-istri akan terganggu ketika keduanya tidak saling mengenali. Proses mengenal tidak berhenti pada tahap awal pernikahan. Namun berlanjut terus hingga akhir hayat. Keinginan suami yang dulu belum tentu sama dengan keinginannya sekarang. Harapan sang istri saat ini boleh jadi berbeda dengan harapannya setahun lalu. 

Begitulah dalam berumah tangga, butuh komunikasi setiap saat, memastikan bahwa suami-istri menjadi orang yang paling tahu perkembangan pasangannya. Dari kepahaman itulah, visi berkeluarga akan semakin mudah terwujud.  

Tidak ada seorang pun yang menghendaki keluarganya rusak dan berantakan. Tidak ada orang yang ingin rumah tangganya hancur dengan mengenaskan. Setiap orang berharap kehangatan keluarga. Keluarga yang diliputi kebahagiaan, memunculkan kreatifitas, menjunjung tinggi budi pekerti, menghargai potensi, menaati tatanan Ilahi, mengikuti tutunan Nabi serta menghadirkan kontribusi.

Semua keinginan tersebut tidak melimpah dengan begitu saja. Perlu proses berjuang dan belajar bersama antara suami dan istri. Sebuah konsep yang dalam istilah Cahyadi Takariawan sebagai wonderful family.

Menghadapi kehidupan keluarga harus bersiap dengan kemelut yang berulang. Jangan dikira keluar dari satu masalah tidak ada masalah lagi. Jalan masih panjang, berbagai peristiwa kehidupan masih akan sangat mungkin dijumpai. Guna mengurai beragam persiapan agar meraih sakinah mawaddah wa rahmah, di buku ini terdapat sepuluh catatan bagi pasangan suami-istri. Apa saja? Tunggu kelanjutannya.

---bersambung---

Identitas buku
Judul: Wonderful Family; Merajut Keindahan Keluarga
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit  PT Era Adicitra Intermedia
Tebal: 250 hlm.
Share:

Senin, 17 Oktober 2016

Dengarkan Celoteh Anak, Yuk!

Ada banyak kesalahan di dalan hidup ini. Tapi, kesalahan terbesar adalah mengabaikan anak-anak. (Taufik Ismail)

***

Ada kondisi buruk yang tengah terjadi pada anak-anak kita hari ini. Sedikit menyebutnya seperti keranjingan game online, merokok, tawuran, kebut-kebutan liar, pemakaian narkoba, bullying dan seterusnya.

Semua itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada faktor penyebab. Diantaranya pola hidup keluarga dimana anak tersebut dibesarkan tidak mendukung tumbuh kembang dengan baik dan sehat.

Harus diakui, cara pandang dan pengasuhan orang tua akan sangat mempengaruhi sifat dan kepribadian anak.
Orang tua yang terlalu sibuk, tidak ada komunikasi dengan anak, memiliki tuntutan yang tinggi, tidak mengetahui potensi anak hingga perilaku diskriminasi adalah bagian dari kesalahan tersebut.

Melalui buku ini penulis ingin mengajak orang tua juga pendidik agar lebih peka terhadap kebutuhan anak. Dan agar keinginan anak sejalan dengan harapan orang tua, maka harus ada komunikasi harmonis antara keduanya.

Anak adalah anugerah Tuhan dengan semua keunikannya yang itu tidak bisa disamakan antara satu dan lainnya. Maka perilakukanlah anak sesuai kondisi mereka. Sebagai contoh pemilihan metode belajar akan efektif jika mempertimbangkan tipe dan karakter anak.

Selain itu, perkembangan zaman pun mempengaruhi lingkungan anak. Sehingga orang tua diharapkan dapat terus belajar agar menjadi pendidik yang berhasil bagi anak-anaknya.

Dan terpenting, senantiasa mendengarkan anak agar anak mau mendengar orang tuanya.

***

Identitas Buku
Judul : Ayo Mendengarkan Anak!
Penulis : Dhanang Sasongko
Penerbit : Sumbangsih Untuk Negeri Foundation
Tebal : 198 hlm.
Share:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI