Meski dalam lagu dikatakan, kasih ibu tak terhingga sepanjang masa.
Namun dalam proses pengasuhan ada banyak sekali ujian kesabaran yang dilalui
seorang ibu. Memiliki anak dengan beragam karakter tentu bukan hal mudah untuk
senantiasa mengendalikan emosi.
Bagaimanapun, ibu adalah manusia biasa yang terkadang karena rasa
letih tanpa sengaja melakukan kekerasan pada anak. Baik kekerasan verbal berupa
perkataan menyakitkan, menghardik dan sejenisnya. Atau kekerasan fisik seperti
memukul, mencubit dan lainnya.
Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap biasa. Bahkan
lebih parah, cukup banyak kasus yang akhirnya dimejahijaukan karena kekerasan
yang dilakukan orang tua (termasuk ibu) pada anaknya. Berbeda menurut Kiki
Barkiah, penulis buku Satu Atap Lima Madrasah, bahwa kala tangan kita diayun
untuk memukul mereka, kita tengah mengajarkan tentang hak untuk melakukan hal
yang sama. Kala tangan jita diayun untuk memukul mereka, yang ada hanyalah rasa
sakit dalam lahir dan membekas dalam batin (hlm. 23).
Maka sebisa mungkin seorang ibu menjaga lisan dan perbuatannya agar
tidak mengikuti nafsu syaitan. Sejatinya anak-anak hanya butuh latihan untuk
mampu menyampaikan keinginan atau kekecewaannya secara seharusnya. Secara
bercerita, Kiki mengungkapkan berbagai kondisi yang ditemuinya selama
mendampingi kelima anaknya. Keputusan keluarga mereka untuk menerapkan homeschooling
memberi kesempatan lebih banyak pada orang tua berinteraksi dengan anak. Semua
aktifitas keseharian menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Untuk mencapai tujuan pengasuhan anak harus ada perencanaan yang
matang, kerjasama semua anggota team serta avaluasi berkelanjutan. Team yang
dimaksud adalah orang tua (Ayah-Ibu), anak-anak, keluarga besar (Kakek, Nenek,
Paman, Bibi, dan seterusnya), juga orang yang ada di rumah seperti asisten
rumah tangga.
Sebagai orang tua tentu ingin selalu memberikan yang terbaik pada
anak-anaknya. Namun jangan sampai orang tua melalaikan sisi kemandirian anak.
"Kami tidak dapat menjamin bahwa warisandalam bentuk harta bagi anak-anak
akan tetap ada an bermanfaat secara berkah.... Tetapi kami yakin bahwa
menanamkan keimanan dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat akan terus
menjaga mereka meski kelak kami telah tiada." (hlm. 107)
Dari kejadian yang dialami penulis, pembaca bisa belajar bagaimana
bersikap bijak menghadapi bermacam perilaku anak. Baik yang sebabnya mungkin
sederhana semisal meminta perhatian, tidak ingin berbagi mainan atau saat
tantrum. Maupun perilaku kritis anak yang terkadang tidak terpikirkan oleh
orang tua seperti pertanyaan seputar pendidikan seks, kesalahan orang tua dan
ketidakadilan di sekitarnya.
Karena ditulis berdasarkan kisah sebenarnya, maka jangakauan buku
ini lebih khusus mengupas problematika orang tua menghadapi anak usia balita
hingga pra baligh (remaja awal). Tentu ini menjadi peluang untuk kembali
menulis kisah selanjutnya sesuai tahap perkembangan anak.
Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadi orang tua sukses dunia
akhirat. Yang dalam konsep penulis adalah orang tua yang mampu melahirkan
generasi yang lebih baik menurut Al-Qur'an melalui madrasah pertama dan utama
yakni keluarga. Buku kumpulan kisah berhikmah seputar mendidik anak ini direkomendasikan
bagi setiap orang tua.
Selamat membaca!
***
Identitas buku
Judul: Satu Atap Lima Madrasah
Penulis: Kiki Barkiah
Penerbit: Mastakka Publishing, 2017
Tebal: vi + 249 hlm.






0 komentar:
Posting Komentar