Senin, 23 Februari 2026
Home »
» Puasanya Bahagia Keseharian Tetap Ceria
Puasanya Bahagia Keseharian Tetap Ceria
"Nda,lapar," rengekan anak ketiga saya. Waktu baru menunjukkan kisaran pukul sepuluh pagi. Wajahnya memelas.
"Kan puasa, ya lapar," jawab saya santai. Saya melanjutkan aktivitas tanpa memperpanjang obrolan. Biasanya, semakin saya ajak ngobrol, semakin kuat keinginan untuk membatalkan puasa.Jadi ya cuekin saja.
Dalam sebuah artikel yang saya baca, ternyata rasa lapar yang dirasakan seseorang bukan hanya karena kondisi lambung membutuhkan asupan makanan. Lapar juga dapat dirasakan saat seseorang bosan atau stres. Artinya, lapar dapat disebabkan oleh faktor biologis dan faktor psikologis.
Nah dalam kasus puasa, faktor psikologis jauh lebih dominan dibanding faktor biologis yang menyebabkan munculnya rasa lapar.
Untuk kebutuhan asupan nutrisi lewat makanan sebenarnya tidak berbeda antara saat berpuasa dengan tidak berpuasa. Perbedaannya hanya pergantian jadwal makan. Sehingga jika dilakukan secara benar, puasa tidak mengganggu metabolisme tubuh. Artinya harusnya puasa tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Tapi, masalahnya adalah rasa lapar, lemas, bosan, dan sejenisnya ketika puasa memberi pengaruh negatif yang ujung-ujumgnya membuat malas aktivitas, malas bergerak, malas berpikir, serta malas-malas lainnya.
Supaya beragam aura 'mendung' tidak mengurangi keberkahan puasa, yok kita lakukan beberapa cara di bawah ini;
1. Pahami bahwa puasa adalah perintah Allah
Konsepnya adalah setiap apa yang diperintahkan oleh Allah adalah baik untuk hambanya. Ini kembali ke konsep iman dan keyakinan.
2. Ikuti anjuran berpuasa yang benar
Maksudnya seperti pola hidup pada umumnya. Kita bisa memilih pola hidup sehat atau sesuka hati. Tidur cukup. Olahraga teratur. Kelola emosi secara bijak. Dan penting memilih makan dan minum yang lebih sehat.
Di media sosial sudah banyak akun yang memberi edukasi terkait pilihan makan dan minum lebih sehat. Ini bisa menjadi refensi untuk memulai pola hidup sehat. Sesederhana memilih minum air putih hangat dibanding minuman bersoda atau tinggi glukosa.
3. Tetap beraktivitas produktif
Seringkali waktu luang membuat seseorang bosan hingga menganggap kondisi berpuasa sebagai beban. Seseorang yang berpuasa bisa tetap beraktivitas meski tetap memperhatikan kondisi fisik. Di luar tugas profesi, kita bisa melakukan hobi atau mencoba keahlian baru.
Nah untuk anak-anak, 'kagabutan' saat puasa bisa diantisipasi dengan mempersiapan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan anak di luar kegiatan rutin seperti sekolah, les, dan sejenisnya. Secara mandiri misal anak mengerjakan jurnal ramadan, ikut kegiatan khusus ramadan, atau challange tertentu.
4. Nikmati prosesnya
"Nda, kapan berbuka?"
atau "nda, kapan lebaran?"
Dua pertanyaan para bocil yang tidak saya jawab tapi saya senyumin.
Pada dasarnya mereka sudah mengetahui jawabannya.Hanya saja, mereka belum menikmati prosesnya sehingga melaksanakan puasa masih sebagai beban dan ingin segera diakhiri.
Semoga saja, itu hanya dipertanyakan para bocah ya. Bukan kita, orang dewasa yang sudah belasan atau puluhan kali melaksanakan puasa ramadan.
Dengan menikmati prosesnya maka menjalani puasa jadi lebih ringan dan tenang. Tidak perlu khawatir mau berbuka apa atau mau kue lebaran yang mana.
Jadi bagaimana, apakah kita sudah menjalani puasa dengan bahagia?
Kalau puasanya sudah bahagia, insyaallah keseharian tetap ceria.








0 komentar:
Posting Komentar