Kamis malam kami menghadiri acara Yasinan seorang keluarga.
Lokasinya hanya sekitar tiga kilo meter dari rumah. Meski tidak terlalu kenal,
tetangga yang hadir cukup tahu bahwa kami keluarga ahli hajat.
Dipertengahan acara, anak-anak mau buang air kecil. Maka,
sayapun menemani mereka ke toilet. Untuk kembali ke ruang tengah rasanya
terlalu repot. Melewati banyak ibu yang tengah menyiapkan makanan. Akhirnya, kami
pun duduk di antara mereka.
Ada kebiasaan di sini membawakan makanan ke tetangga yang
hadir. Jadi selain makanan untuk disajikan juga ada makanan dibungkus untuk
dibagikan. Dua orang ibu di samping saya bertugas memasukkan nasi ke plastik-plastik
khusus. Sesekali saya membantu membukakan plastik.Tetapi lebih banyak mengawasi anak-anak yang juga
ingin berpartisipasi.
Tanpa sengaja mata saya menangkap gerakan salah seorang ibu.
Tangannya menarik bungkusan nasi yang sudah diisi beragam sayur dan lauk ke
arah bawah tempat duduknya. Karena mengetahui saya melihatnya, ia terpaksa tersenyum. Saya ikut senyum dengan kaku. Lalu ia mengalihkan pandangan seolah kembali
sibuk memasukkan nasi ke plastik. Saya tahu ia merasa tidak nyaman lagi dengan
keberadaan saya didekatnya.
Untungnya, pembacaan surat Yasin beserta rangkaian do’a
telah usai dan dilanjutkan makan bersama.
Maka saya mengajak anak-anak kembali ke ruang tengah. “Kasihan ibu itu, hanya untuk sebungkus
makanan yang tidak seberapa harus mencuri,” batin saya. Padahal cukup banyak
bungkusan makanan dan pasti ibu itu akan kebagian jatah. Tapi kenapa harus mencuri? Lagi-lagi hati
saya masih sibuk memikirkan perbuatan si ibu.
Esok paginya kami ke Kalangan, pasar yang hanya digelar dua
kali seminggu tiap Selasa dan Jum’at.
Karena tas berisi keperluan anak-anak cukup berat, saya memutuskaan
untuk menginggalkannya di parkiran. Sepertinya tidak akan ada pencuri yang mau
mengambil tas berisi baju dan susu bayi, pikir saya. Hanya dompet dan handphone
yang dibawa.
Kakak Mush’ab berjalan dituntun ayahnya. Saya menggendong
adik Raihan. Dari arah belakang pasar tempat menjual ikan, kami berjalan menuju
lapak menjual sayur-mayur. Lorong diantara kios penjual tidak cukup lebar
menyebabkan kami tidak bisa berjalan bersamaan. Saya berjalan di belakang suami
yang tampaknya asyik ngobrol dengan kakak.
Beberapa orang dari arah belakang tiba-tiba berjalan
menyerempet saya. Badan saya terdorong
ke depan. Spontan saja tangan saya merogoh saku gamis ketika merasa tiba-tiba terasa
ringan.
“Bang, Hp-ku,” saya berteriak. Kaki kanan melangkah setapak.
Suami yang berada sekitar satu meter di depan, menoleh.
Bengong, tidak bereaksi. Saya yang semula ingin menyusul suami mengurungkan
niat. Berbalik badan dan mendapati dua orang ibu di samping kiri dan kanan
saya. Tanpa menunggu komando, kedua tangan saya memegangi mereka setelah
menurunkan adik dari gendongan.
“Ya Allah, hp ku hilang. Ikhlas,” ucap saya dalam hati meski
pikiran saya cepat menjalar. Tidak bisa menulis. Tidak bisa rapat di WA. Tidak
bisa menghubungi teman, dan seterusnya.
Di tempat itu seperti mesin waktu dihentikan. Tidak ada
orang yang mendekat atau berkomentar. Hanya saya yang menatap hampa ke salah
seorang ibu. Tangannya masih saya pegang.
“Aku idak malengnyo,” katanya.
Saya tidak berkata-kata. Sungguh, tanpa bisa dikendalikan saya langsung membuka
plastik hitam yang dibawa si ibu.
“Katek apo-apo di situ,” lagi si ibu itu berkata. Terlihat kain yang beratakan di dalam plastik
dan saya tidak berniat menggeledah semuanya.
Seorang bapak yang menjaga dagangannya di dekat kami
seketika berkata, “itu nah hpnyo,” sambil menunjuk ke arah kios penjual pakaian. Dan benar hp saya tergeletak di tanah. Tidak terlihat
jika tidak menyibak deretan pakaian yang
digantung berjajar. Kedua ibu yang jadi tersangka masih terpaku ketika saya
memunguti hp.
“Maaf, bu,” hanya kata itu yang saya ucapkan tepat di hadapan
ibu tersebut. Saya meninggalkan mereka
dengan gemuruh hamdalah di hati. Suami langsung mengajak mencari tempat duduk
guna mengurangi ketegangan saya.
“Hati-hati, nak,” kata saya ketika anak-anak siap menyantap
martabak manis di sudut lain kalangan. Jantung saya masih berdegup kencang saat
dua orang buta menyanyikan lagu entah apa judulnya sambil membawa kaleng.
Selembar uang saya ulurkan ke mereka. “Mungkin saya kurang bersedekah,”
lintasan pikiran saya.
Sepanjang perjalanan pulang, rekaman dua kejadian beruntun
yang saya alami terus terputar di ingatan. Mereka ibu-ibu, sama seperti saya. Yang
terkadang tidak bisa berpikir normal saat anak-anak merengek lapar semetara tidak satupun makanan tersisa.
Mereka saudara saya, saudara seiman. Yang punya keyakinan
pada Sang Pemberi rezeki namun terkadang masih goyah dengan kenyataan. Mereka
memilih mencuri dengan nyata. Saya mungkin juga telah mencuri tanpa disadari.
Mereka adalah juga saya.
Lalu, dengan hati layu, saya hanya mampu tersenyum kaku dan
berucap, maaf. Maaf atas ketidakberdayaan saya. Sejatinya, mereka berhak atas
solusi yang tidak cukup dengan berkata, “ibu, mencuri adalah perbuatan tercela, dilarang agama.”
Tidakkah mereka berpesan bahwa ada kerasnya hidup yang tengah dipertaruhkan.







Benar sekali...
BalasHapus